Kamis, 17 Maret 2016

Perjalanan ke Turki (Ephesus, Selcuk)



Ini  adalah perjalanan saya yang ke dua kalinya ke Turki. Kali ini saya lakukan bersama istri. kalau yang pertama saya hanya mengunjungi Istanbul, kali ini saya mengunjungi  Istanbul, Selcuk dan Goreme (Cappadocia). Kami berangkat tanggal 2 November 2013 jam 18.00 menggunakan Etihad dengan transit di Abu Dhabi. Kemudian jam 03.40 waktu setempat kami melanjutkan penerbangan ke Istanbul mengunakan Turkish Airline. Setiba di Attaturk International Airport sekitar jam 06.45 , kami langsung menuju loket visa untuk membeli visa on arrival yang berlaku selama 30 hari dengan harga USD 25. Kami tidak perlu mengantri, karena tidak banyak orang yang berada di loket visa. Mungkin karena ketika keluar dari pesawat kami langsung mengambil langka cepat berjalan ke arah loket untuk menghindari antrian :)


Setelah melewati imigrasi dan mengambil bagasi kami berjalan menuju terminal domestik untuk melanjutkan penerbangan ke Izmir dengan maskapai Altas Jet.
Namun sebelum menuju terminal domestik kami harus menunggu kedatangan anak seorang teman yang sedang kuliah di Istanbul. Teman saya menitipkan taskoper yang berisi makanan dari Indonesia untuk anaknya. Setelah menunggu sekitar 30 menit kami bertemu dengan anak teman saya dan menyerahkan koper titipan orangtuanya. Setelah itu kami berjalan menuju terminal dosmestik. Kami berangkat ke Izmir pada jam 09.30 dan tiba di bandara Adnan Menderes, Izmir jam 10.25.


Hotel Artemis, Selcuk
Dari bandara Izmir, kami melanjutkan perjalanan lagi dengan menggunakan bus menuju Selcuk yang memakan waktu sekitar 1 jam.
Selçuk dan Ephesus merupakan tempat penting bagi peziarah Kristen sejak lama. Bunda Maria dan Santo Yohanesdisebut pernah tinggal di sini. The House of the Virgin Mary terletak sekitar 7 km dari Selçuk.
Kami tiba di Selcuk dan turun di tepi jalan yang dekat dengan jalan menuju hotel Artemis. Kami memesan private room dengan kamar mandi dan kami beruntung mendapatkan kamar yang cukup besar. Setelah check in dan istirahat sebentar di kamar, kamipun keluar hotel dan berjalan kaki mengunjungi St John Church-Basilica yang jaraknya tidak jauh dari hotel tempat kami menginap.





 

Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi mesjid Isa Bey yang dibangun pada tahun 1375. Mesjid ini pernah mengalami kerusakan akibat gempa bumi dan kemudian direnovasi kembali. Kami sempatkan juga untuk sholat di dalam mesjid tersebut. Setelah berkeliling kawasan mesjid kami kemudian berjalan menuju ke Temple of Artemis. 


Isa Bey Mosque
Isa Bey Mosque


Isa Bey Mosque
Temple of Artemeis (Kuil Artemis) adalah kuil Yunani yang didedikasikan untuk dewi Artemis yang merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Ketika kami berkunjung hanya ada beberapa batu peninggalan kuli Artemis. Kami sempat terkecohdengan informasi yang kami dapat sebelum berangkat ke Turki. Kami pikir kuil Artemis masih dalam keadaan utuh, ternyata hanya tersisa beberapa puing batu saja :)
Sisa reruntuhan kuil Artemis
Menu di Resto
Dari kuil Artemis kami berjalan kembali ke hotel dan singgah di sebuah mesjid dekat hotel untuk melakukan sholat maghrib. Setelsah selesai sholat maghrib kami langsung menuju restoran yang berada tidak jauh dari mesjid. Karena sudah merasa sangat lapar, kami memesan menu nasi dengan daging. Harga makanannya cukup terjangkau dan terasa cukup enak untuk lidah orang Indoensia seperti kami. Prinsip kami ketika traveling adalah bisa makan yang cukup memenuhi kebutuhan nutrisi. Enak atau tidak enak bukan menjadi masalah, namanya juga jauh dari rumah sendiri, harus bisa menyesuaikan dengan makanan setempat. Selesai makan, kami kembali ke hotel untuk beristirahat untuk persiapan perjalanan ke Ephesus esok harinya.

Minibus-Dolmus
Dari Selcuk central bus station (Otogar), kami naik minibus (dolmus) dengan tujuan Ephesus yang berjarak sekitar 3 km.  Setibanya di Ephesus kami langsung menuju loket untuk membeli tiket masuk. Turis manca negara yang berkunjung cukup ramai, karena Ephesus merupakan tujuan utama wisatawan ketika berada di Selcuk. Ketika memasuki kawasan Ephesusu, bangunan yang terlihat sangat mencolok adalah The Great Theatre. Ini adalah struktur yang paling megah di Ephesus. The Great Theatre ini pertama kali dibangun pada pada abad ketiga SM dan kemudian selama Periode Romawi, bangunan ini diperbesar dan membentuk model seperti yang dapat dilihat sekarang.

The Great Theatre
Selain The Great Theatre, bangunan lain yang menarik perhatian adalah Celcus Library. Perpustakaan ini adalah salah satu struktur yang paling indah di Ephesus yang dibangun pada 117 Masehi. Dari Celcus Library kemudian kami menyusuri jalan mengelilingi kawasan Ephesus. 

Celcus Library
Celcus Library

Basilica


Selesai bekeliling Ephesus, kami mengunjungi The Grotto of Seven Sleepers yang terletak tidak jauh dari Ephesus. Karena tidak kendaraan khusus yang menuju ke sana, kami memutuskan untuk berjalan kaki dari Ephesus ke Seven Sleepers, lumayan melelahkan juga :) Kisah  tentang Seven Sleeper atau Ashabul Kahfi ini terdapat dalam Al Quran (Surat Al Kahf) dimana tujuh orang pemuda yang beriman pada Allah SWT, melarikan diri dari kekejaman raja yang berkuasa saat itu. Dalam pelarian itu mereka tertidur dalam goa selama 309 tahun. Tetapi keberadaan goa ini masih menjadi perbedaan pendapat, karena ada juga yang mengatakan bahwa kisah tersebut terjadi di Suriah atau Yordania, wallahu a'lam bishawab.

Seven Sleeper Cave
Tidak lama kami berada di sini, selanjutnya kami berjalan kaki kembali menuju jalan yang dilewati oleh Dolmus untuk kemudian kembali ke Selcuk otogar. Dari otgar kami kembali ke hotel untuk mengambil tas yang kami titipkan di resepsionis. Sambil menunggu waktu keberangkatan bus ke Cappadocia pada malam hari kami sempatkan singgah di mesjid untuk sholat dan beristirahat sejenak serta makan malam di restoran yang berada tidak jauh dari mesjid.
 

 


Untuk warga Indonesia ketika tiba di airport turki kudu antri dulu ke bagian VOA visa on arrival lokasinya berada sebelum antrian cap paspor jangan sampe salah karena banyak turis tidak mengetahui hal ini dan setelah antri mereka ditolak saat mau cap paspor disuruh bayar visa dulu. Tahun 2013 VOA harus bayar 25 dollar nanti dapat stiker visa yang ditempel di paspor,

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ivarksd/liburan-ke-istanbul-turki_552fb0556ea834501a8b459a
Untuk warga Indonesia ketika tiba di airport turki kudu antri dulu ke bagian VOA visa on arrival lokasinya berada sebelum antrian cap paspor jangan sampe salah karena banyak turis tidak mengetahui hal ini dan setelah antri mereka ditolak saat mau cap paspor disuruh bayar visa dulu. Tahun 2013 VOA harus bayar 25 dollar nanti dapat stiker visa yang ditempel di paspor,

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ivarksd/liburan-ke-istanbul-turki_552fb0556ea834501a8b459a

Rabu, 24 Februari 2016

Pendakian Gunung Semeru


Pendakian ke Semeru saya lakukan bersama teman-teman ketika demam pendakian gunung mulai mewabah di kalangan anak muda setelah adanya film 5 Cm. Jumlah pendaki yang akan melakukan pendakian luar biasa banyaknya. Hal itu saya rasakan ketika melakukan registrasi dimana saya harus antri cukup lama.

Indikasi ramainya pendaki kemudian saya jumpai ketika tiba di Ranu Kumbolo setelah malam tiba. Lokasi  camping di tepian Ranu Kumbolo telah penuh dengan tenda para pendaki. Beruntung kami masih mendapatkan tempat untuk memasang tenda, walaupun bukan tempat ideal namun lumayan untuk sekedar beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya.  

Esok paginya kami terbangun dengan diiringi suara riuh para pendaki dan dinginnya udara di Ranu Kumbolo. Setelah melakukan sholat Subuh, saya mulai berkemas dan ikut menyiapkan sarapan bersama teman-teman. Setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan ke Kalimati sebagai basecamp sebelum melakukan pendakian ke puncak Mahameru.

Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo
Di Tepi Ranu Kumbolo


Setelah melewati tanjakan cinta, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. Di belakang kami terlihat Ranu Kumbolo sementara di depan kami terbentang Oro-oro Ombo yang dipenuhi dengan tanaman bunga berwarna ungu yang terlihat cantik. Perjalanan melalui Oro-oro Ombo dilalui dengan santai sambil beberapa kali mengambil foto.  

Oro-oro Ombo
Setelah tiba di Cemoro Kandang di ketinggian 2500 mdpl kami beristirahat sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Setibanya di Kalimati (2.700 mdpl) kami langsung mendirikan tenda dan menyiapkan segala sesuatunya untuk pendakian ke puncak Mahameru. 
    
Kalimati
Kalimati


Sekitar jam 20.00 saya masuk ke dalam tenda dan mencoba tidur. Sekitar jam 23.00 kami mulai bangun dan bersiap-siap melakukan perjalanan menuuju puncak Mahameru. Tepat pukul 24.00, kami berangkat meninggalkan base camp Kalimati, berjalan beriringan di gelapnya malam. Lampu yang digunakan oleh para pendaki membuat pemandangan seperti barisan lampu yang berjalan. 
Saat menjalani track ke puncak Mahameru terlihat barisan lampu para pendaki mulai dari bawah sampai ke atas. Pendakian terasa berat track berupa tanah pasir yang nenbuat langkah terasa berat, ditambah banyaknya pendaki di track yang membuat antrian panjang. Saya juga terpisah dari rombongan karena masing-masing teman menyesuaikan langkahnya dengan kemampuan fisiknya.
    
Mendaki Semeru memang  berat,  memerlukan fisik dan mental yang kuat. Bagaimana tidak berat, kalau jarak 2,5 km harus ditempuh dalam waktu 5-8 jam, tergantung kondisi masing-masing pendaki.
Alhamdulillah, sekitar pukul 05.00 saya tiba di puncak Mahameru. Saya segera melakukan sujud syukur dan dilanjutkan dengan solat Subuh. Tidak lama kemudian sang mentari mulai menampakkan sinarnya, subhanallah, begitu indah dilihat.

Para pendaki asik mengabadikan moment di puncak Mahameru dengan berbagai gaya. Tapi harus diingat bahwa pendaki tidak boleh berlama-lama berada di puncak karena masih adanya uap beracun dari kawah Semeru, apalagi saat hari semakin siang. Oleh karena itu pendaki dianjurkan untuk segera turun setelah berhasila mencapai puncak Mahameru.

 
Matahari Mulai Terbit
Para Pendaki Menyaksikan Mentari Terbit

Puncak Mahameru

Puncak Mahameru

Track Menuju Puncak Mahameru
Pendakian menuju puncak Mahameru biasanya dimulai sekitar pukul 24.00, makanya tidak heran apabila beberapa pendaki sampai kelelahan dan tertidur di track menuju puncak.  Entah apakah mereka berhasil mencapai puncak atau tidak, karena foto ini saya ambil sekitar jam 08.00 saat turun dari puncak  Semeru. Entah apakah saya masih dapat kembali lagi suatu saat nanti ke Semeru, hanya waktu yang akan menjawab.


 
Lelah dan Tertidur di Track Semeru

Selasa, 23 Februari 2016

Menikmati Ice Cream Itali di Jogjakarta



Kali ini saya ke Jogjakarta dalam rangka tugas dari perusahaan bersama dengan rekan kerja dari Bank. Setelah selesai tugas dan masih ada waktu luang cukup panjang kamimemutuskan untuk mencoba kuliner di Jogjakarta.


Pilhan pertama adalah makan siang di Jejamuran yang direkomendasikan oleh rekan saya. Untungnya kami diantar oleh sopir sehingga tidak sulit mencaia lokasi resto Jejamuran yang berada di kabupaten Sleman . Yang khas dari resto ini adalah semua hampir menu yang disajikan menu yang terbuat dari jamur.  Sayapun mencoba bebeaepa menu antara lain rendang jamu, toge jamur, sate jamur dan jamur crispy, tidak ketinggalan tahu dan tempe goreng.



Bagi saya yang memiliki lidah universal, semua makanan saya rasa enak saja. Apalagi bumbu yang digunakan adalah bumbu sama seperti yang biasa digunakan di rumah atau restoran lainnya, nothing special. Minuman yang saya pesan adalah Geronimo yaitu campuran jeruk, madu dan daun mint. Kalau minuman ini baru kali saya coba dan rasanya segar karena disajikan dingin.


Menu Jejamuran
Hal lain yang berbeda disni adalah sajian musik yang dibawakan oleh beberapa orang. Mereka memainkan alat musik dan  bernyanyi di bagian depan dalam resto. Jadi kita sambil makan kita bisa menikmati musik. Apabila kita merasa terhibur dan suka dengan msuik yang dimainkan, tidak ada salahnya memberikan sekedar uang tip untuk mereka. Mereka meletakkan toples plastik di atas bangku didepan mereka bernyanyi.


Tempat kuliner kedua yang saya kunjungi adalah Tempo Gelato yang berada di Jl Prawirotaman No 43. Cafe ini menyajikan menu ice cream khas Itali. Tempatnya kecil sehingga nampak penuh ketika saya ke sana dan mayorutas pengunjungnya adalah pelajar/mahasiswa. Untungnya masih ada 2 kursi yang kosong ketika kami masuk. Interior ruangannya cukup sederhana, dimana dindingnya dipenuhi dengan bingkai foto orang baik orang biasa maupun selebriti yang sedang menikmati ice cream. Harganya bisa dibilang cukup terjangkau walaupun tidak bisa dibilang murah. 1 cup kecil dengan pilihan 2 rasa dihargai Rp. 20.000 sedangkan apabila menggunakan cone harganya 25.000. Bagi saya 1 cup kecil sudah cukup membuat kenyang, apalagi saya belum lama menyantap menu makan siang. 
Saran saya jangan berlama-lama duduk di dalam karena tempatnya yang kecil, sehingga orang lain yang datang dapat bergantian masuk dan duduk menikmati ice cream. Apabila tidak mendapat tempat duduk, daripada menunggu lama, tidak ada salahnya memesan ice cream  dan memakannya di luar cafe atau di dalam mobil. Ice cream ini layak untuk dikunjungi apabila datang ke Jogjakarta.
Tempo Gelato

Ice Cream Cup
Cafe Tempo Gelato