Selasa, 25 November 2008

sepeda...speedy...sepi

Tour d’Indonesia yang tahun lalu tidak diadakan karena ketiadaan sponsor, akhirnya tahun ini bisa terlaksana dengan dukungan dari PT Telkom, makanya diberi nama Speedy Tour d’Indonesia. Produk sponsor dengan event ternyata ada ketersambungan, yaitu antara Speedy yang mengedepankan kecepatan dengan balap sepeda yang juga mengandalkan ketahanan fisik dan kecepatan. Klop deh….

Namun sayang, event ini terasa kurang gregetnya dan kurang mendapat antusiasme dari masyarakat Bandung. Hal ini terlihat dari pengunjung yang hadir pada penyambutan peserta saat tiba di Bandung hari minggu dan pelepasaan start hari Senin. Mungkin juga sepinya pengunjung disebabkan kurangnya promo yang dilakukan oleh pihak penyelenggara. Saya sendiri memang merasakan kalau promo untuk event ini tidak begitu gencar sehingga kurang diketahui oleh masyarakat luas. Pada saat penyambutan tidak terlihat antusiasme masyarakat yang ingin menyaksikan para pembalap sepeda itu...sepi euy.


Minggu siang, bersama dengan anak saya dan teman-teman biker lain yang akan menyambut peserta yang baru datang dari Jakarta, awalnya sempat kecewa karena sesuai jadwal rombongan peserta akan tiba di pintu tol Pasteur jam 16.00, ternyata baru tiba menjelang magrib. Apalagi panitia tidak menyediakan makanan dan minuman untuk para biker yang menyambut rombongan itu. Terlihat sekali kurangnya koordinasi di antara penyelenggara. Kasihan juga saya melihat para biker, sudah capek menunggu dari jam 2 siang, tetapi tidak diberi makan dan minuman. Setelah acara penyambutan selesai, hujanpun turun dengan deras, lengkap sudah penderitaan teman-teman biker.


Keesokan harinya, start untuk etape berikutnya dilepas oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan yang didampingi Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno. Saat itu juga tidak tampak antusiasme warga Bandung untuk hadir menyaksikan event ini. Pengunjung yang hadir lebih didominasi para official, anak-anak dari Sekolah Dasar dan pegawai Telkom yang notabene adalah sponsor utama event ini. Sayang juga event sebesar ini kurang mendapat respon yang baik dari masyarakat.
Saya pikir untuk menarik pengunjung sebaiknya diadakan sesi coaching clinic, dimana para pembalap pemula atau junior dapat hadir untuk bertemu, diskusi dan foto bareng dengan para pembalap idolanya baik dari dalam maupun luar negeri. Hal ini juga dapat menarik minat masyarakat terutama anak muda untuk menyukai olah raga sepeda. Mungkin juga masyarakat melihat olahraga sepeda ini kurang bergengsi, padahal kalau kita lihat harga sebuah sepeda para pembalap itu lebih mahal dari harga sebuah sepeda motor.

Kalau saja event ini berlangsung dengan sukses dan semarak, dapat memberi kesan yang baik pada para peserta dari mancanegara. Apalagi pada saat perlombaan, para peserta banyak melewati keindahan alam dan menyaksikan beragam budaya Indonesia di daerah yang dilalui. Hal ini juga dapat membuat mereka tertarik untuk mengikuti acara serupa tahun berikutnya. Kesan yang baik juga dapat membuat mereka tertarik untuk datang kembali ke Indonesia dalam rangka wisata atau setidaknya menceritakan tentang keindahan alam dan kebudayaan Indonesia kepada keluarga atau teman-teman mereka di negaranya masing-masing..

Hari genee...masih nyuap

Di milis kantor, saya mendapat informasi mengenai biro jasa yang dibentuk oleh organisasi pegawai di perusahaan. Usahanya meliputi antara lain pengurusan STNK, SIM, Paspor dll, sekalian dengan tarif biayanya. Setelah saya lihat tarif yang ada, saya bisa pastikan tarif itu sudah termasuk uang pelicin untuk petugas di instansi terkait. Untuk buat Paspor ada istilah kilat dan biasa, biaya kilat Rp. 880 ribu sedangkan biasa Rp. 660 ribu. Padahal setahu saya tidak ada istilah kilat dan biasa di kantor imigrasi. Setahu saya istilah itu hanya ada di kantor pos atau jasa titipan barang. Pengalaman saya waktu buat Paspor sendiri, biayanya sebesar Rp. 300.000 dengan waktu sekitar 3-5 hari.

Ada lagi jasa pembuatan SIM C sebesar Rp. 300 ribuan,- Padahal tarif resminya tidak lebih dari Rp. 100.000 dengan catatan kita harus lulus tes kesehatan, teori dan praktek. Kalau tidak lulus, ya harus test ulang bukannya malah menyuap polisi supaya diluluskan. Apalagi Kapolda Jabar sudah mencanangkan tidak boleh lagi ada pungutan atau suap di jajarannya. Ini terbukti pada saat saya mengurus perpanjangan SIM, tidak ada lagi orang yang datang menawari jasa untuk mengurus perpanjangan SIM. Tentunya masyarakat juga harus terus mendukung langkah itu dan ikut mengawasinya, bukannya malah ikut merusak sistem yang ada.

Kita bisa lihat di jalan, begitu banyak orang yang bisa mengemudikan kendaraan tetapi mereka tidak paham aturan berkendara. Jadi tidak heran kalau sering terjadi kecelakaan, salah satu penyebanya ya itu tadi...untuk dapat SIM-nya mereka menyuap. Dampak lainnya, kalau kita menyuap untuk buat SIM, apalagi SIM untuk anak kita, berarti kita sudah mengajarkan ketidakjujuran kepada anak-anak kita. Tidak usah heran kalau nanti mereka besar jadi orang yang tidak jujur, bahkan jadi koruptor. Makanya sampai saat ini saya belum mau membuatkan SIM untuk anak saya, karena dia belum cukup cukup usia. Walapun dia bilang teman-temannya di sekolah sudah banyak yang punya SIM, padahal usianya belum cukup. Caranya? Cari tahu sendirilah....

Mengenai pembuatan paspor, alasan yang dikemukakan oleh teman-teman apabila harus mengurus paspor sendiri adalah waktunya yang lama. Lho, memangnya mau secepat apa? Sebulan, seminggu, sehari, atau sejam? Berdasarkan pengalaman saat mengurus SIM, menurut saya tidak terlalu lama. Paling lama saya berada di kantor imigrasi 2-3 jam untuk menunggu proses. Walapun memang untuk pembuatan paspor kita harus datang 3 kali. Pertama, menyerahkan formulir dan kelengkapan dokumen (1-2 jam), kedua, untuk foto dan wawancara (2-3 jam, tergantung nomor urut antrian), dan terakhir adalah pengambilan paspor (tidak lebih dari 30 menit). Pada saat saya antri menunggu panggilan, saya perhatikan beberapa kali orang yang nomor urutnya belakangan atau tidak punya nomor urut bisa masuk untuk foto dan wawancara mendahului saya. Biasanya mereka ditemani oleh orang dari biro jasa atau biro travel. Kalau sudah begini, berarti ada yang teraniaya, yaitu orang yang sudah antri dengan tertib, tetapi haknya diambil atau didahului oleh orang lain yang menggunakan biro jasa tadi. Saat itu juga saya langsung menegur orang tersebut, namun tidak dihiraukan oleh mereka. Saya pikir daripada ribut-ribut, ya sudahlah, yang masih waras lebih baik mengalah saja...

Memang sampai saat ini yang sering jadi masalah bagi masyarakat adalah pengurusan dokumen perijinan seperti itu. Mulai dari proses yang lama, berbeli-belit sampai pungutan yang tidak jelas. Tapi menurut saya tidak semua kesalahan bisa ditimpakan kapada instansi terkait, masyarakat juga punya andil. Mereka yang serba ingin cepat atau instan, sering menghalalkan berbagai cara agar kepentingannya bisa segera terpenuhi. Menurut saya, untuk urusan seperti itu, kalau tahu prosesnya makan waktu lama, lebih baik diurus dari jauh-jauh hari, supaya tidak terdorong untuk mencari jalan pintas. Hari genee...masih nyuap?

Saat saya merespon di milis mengenai usaha tersebut, komentarnya beragam, ada yang pro dan kontra. Padahal biasanya anggota nilis ini sering mengkritisi kebijakan manajemen perusahaan yang dianggap tidak wajar atau menyimpang dari aturan. Bisa dikatakan untuk urusan moralitas, mereka mungkin lebih baik dari yang lain. Namun pada saat mereka memiliki untuk kepentingan, mereka mengabaikan prinsip bersih dan jujur dalam berbisnis. Mereka juga tahu, yang menyuap dan disuap itu sama-sama dilaknat Tuhan. Tapi tetap ada saja yang cari pembenaran dengan macam-macam dalil. Ya begitulah manusia...semut di seberang lautan terlihat, gajah di pelupuk mata tak tampak.

Haji...beri kesempatan pada yang belum

Pada bulan Nopember ini saya beberapa kali mendapat undangan dari teman yang akan melaksanakan ibadah haji. Biasanya pada acara itu juga diisi dengan ceramah yang terkait dengan ibadah haji. Setiap kali mendapat undangan dan mendengar ceramah terkait ibadah haji, timbul keinginan untuk kembali melaksanakan ibadah haji. Namun saat itu juga saya berusaha mengeliminir keinginan itu dengan berpikir bahwa haji itu wajib hanya satu kali seumur hidup, selebihnya adalah sunnah. Sementara itu masih banyak orang yang belum mendapat kesempatan melaksanakan ibadah haji. Kalau orang yang sudah pernah haji atau bahkan berkali-kali haji masih ingin pergi juga, bagaimana dengan yang belum pernah berhaji, kesempatannya pasti akan semakin kecil karena kesempatan mereka sudah diambil oleh orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik, yang bahkan dapat membayar ONH setiap tahun...ONH plus lagi.

Saya sangat bersyukur, selama melaksanakan ibadah haji selalu diberi kemudahan. Cuaca di sana pada saat itu juga saya rasakan cukup bersahabat dengan jamaah dari Indonesia. Walaupun begitu tetap saja saya terkena penyakit batuk yang baru sembuh total setelah dua minggu kembali dari Mekah. Kemudahan yang paling saya rasakan adalah pada saat dapat mencium Hajar Aswad, walaupun sebelumnya saya tidak berniat untuk mencoba mendekatinya, mengingat tempat itu selalu penuh sesak. Justru pada saat saya meniatkan untuk mencium Hajar Aswad untuk yang kedua kali, saya malah terjepit dan terlempar dari kerumunan para jamaah haji. Astaghfirullah....mungkin saya sudah berbuat zalim kepada jamaah lain. Saya sudah merasakan mencium Hajar Aswad, seharusnya saya lebih memberikan kesempatan kepada mereka yang belum pernah menciumnya. Begitu pula pada saat melontar jumrah, saya dapat melakukannya dengan lancar, walaupun pada saat itu juga terjadi musibah yang menyebabkan beberapa orang jamaah haji meninggal dunia karena terinjak-injak saat berdesakan melontar jumrah.

Ibadah haji memang menuntut semangat berkorban dari para jamaah. Pengorbanannya dimulai sebelum berangkat yaitu menabung, meninggalkan keinginan membeli sesuatu yang tidak perlu. Belajar menambah ilmu agama, daripada membuang waktu dengan hal yang tidak jelas. Setelah berangkat kita berkorban dengan meninggalkan rutinitas, pekerjaan, keluarga dan harta bahkan nyawa. Sesampainya di sana kita berkorban untuk selalu sabar dalam menjalankan ibadah dan menghadapi segala sesuatu yang terjadi. Jadi apapun yang dilakukan disana memang benar-benar membutuhkan pengorbanan yang besar. Tapi kemudian timbul pertanyaan, setelah kita kembali dari haji, apakah semangat berkorban itu masih tetap ada, semakin berkurang atau bahkan menghilang. Saya alami sendiri, semangat berkorban setelah kembali dari haji memang berkurang bila dibanding dengan saat berhaji dulu. Inilah tantangan yang harus dihadapi dalam rangka mencapai haji mabrur. Jadi benar kata para ulama, bahwa haji mabrur itu ditentukan setelah jamaah tersebut kembali ke tanah air.

Hal lain yang perlu disiapkan oleh para jamaah haji sebelum berangkat ke Mekah adalah niat dan ilmu untuk melaksanakan haji. Apakah niatnya benar-benar semata-mata karena Allah SWT atau ada maksud lain, seperti ingin memiliki gelar haji, ingin lebih disegani oleh orang lain, ingin lebih dianggap sebagai orang alim/berilmu atau niat-niat lainnya. Bekal ilmu yang kita miliki, apakah sudah cukup untuk melaksanakan ibadah haji sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Bila kedua hal itu sudah dirasa mencukupi, tinggal kita melaksanakan haji sambil memohon petunjuk dan perlindungan dari Allah SWT. Selamat jalan saudara-saudaraku, semoga dapat melaksanakan ibadah haji dengan lancar dan selamat, kembali menjadi haji mabrur.

Labbaik allahumma labbaik Labbaikalaa syariikalakalabbaik. Innal hamda wanni’mata lakawalmulka laa syarii kalak

Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat adalah milik-Mu, tidak sekutu bagi-Mu

Sabtu, 22 November 2008

Aku Butuh Informasi, Bukan Surat Kabar

Saat ini, aku rasakan informasi sudah menjadi kebutuhan yang sangat penting. Informasi biasanya saya dapatkan dari radio di mobil ketika pergi atau pulang kantor. Kemudian informasi dari surat kabar/majalah dan televisi pada saat di rumah serta internet saat di kantor ataupun di rumah. Dengan begitu banyaknya sumber informasi yang ada, aku menilai surat kabar atau majalah merupakan sumber informasi yang paling mahal.

Sebagai perbandingan, televisi, radio gratis, internet di kantor gratis, sedangkan internet di rumah berlangganan dengan biaya sekitar Rp. 200.000/bulan. Sementara itu langganan surat kabar sekitar Rp. 80.000/bulan, majalah sekitar Rp. 125.000/bulan. Malalui internet kita dapat memperoleh informasi apa saja, mulai dari yang legal maupun ilegal atau yang halal maupun haram. Mau belajar atau mencari ilmu melalui internet juga bisa, mau cari hiburan juga ada. Jadi kalau diitung dari manfaat yang diperoleh, internet jelas lebih murah dan menguntungkan.

Sebenarnya suratkabar dan majalah itu tidak aku bayar karena sudah disediakan di kantor. Namun aku merasa langganan surat kabar dan majalah tidak efektif, karena di kantor mungkin juga tidak sempat dibaca, kalaupun dibaca, hanya headline-nya saja. Informasi yang disajikan paling baru adalah informasi yang terjadi sampai malam sebelum berita naik cetak. Apalagi majalah, informasinya tentang kejadian seminggu sebelumnya….sudah basi! Dibawa pulang ke rumah, aku sudah malas untuk membacanya karena lelah dan juga infonya sudah semakin basi. Edisi hari Sabtu-Minggu jelas tidak akan dibaca karena baru akan diantar oleh tukang koran pada hari Senin berikutnya. Informasi yang benar-benar up to date memang aku dapat dari televisi, radio dan internet.

Kalau begitu, untuk apa perusahaan masih tetap menyediakan dana untuk membelikan surat kabar dan majalah bagi para pejabat yang ada. Apa tidak sebaiknya dana yang ada dialokasikan untuk hal lain yang lebih efektif dan bermanfaat. Bahkan kalau perlu dana yang ada itu digunakan saja untuk membayar atau mensubsidi biaya fasilitas internet di rumah para pegawai. Hal ini dapat ikut membantu untuk mencerdaskan pegawai dan keluarganya atau bahkan orang di lingkungan sekitarnya. Dampak negatifnya tentu saja ada, yaitu penurunan income bagi si penjual surat kabar/majalah tersebut.


Ngobrol sama tukang cukur

Sabtu siang saya dan anak pergi ke tukang culur langganan untuk merapikan rambut, walaupun rambut saya sebenarnya sudah hampir punah karena erosi. Saya memnag tidak pernah datang ke salon. Untuk urusan rambut saya merasa lebih nyaman pergi ke tukang cukur tradisional. Sambil dicukur saya mengobrol dengan si Ujang, begitu saya memanggil tukang cukur langganan saya itu

Saya: Kemana tukang cukur yang satu lagi?
Ujang: Dia sedang libur pak, dua minggu.
Saya: Hah, dua minggu…lama sekali? Hebat euy, tukang cukur sekali libur bisa dua minggu. Jatah cuti saya di kantor setahun hanya 12 hari.
Ujang: Bukannya hebat pak, teman saya terpaksa libur karena harus bergilir dengan temannya yang lain. Kursi cukur di sini hanya ada tiga sedangkan tukang cukurnya ada empat orang, jadi harus ada yang gantian libur setiap dua mingu. Jadi semua tukang cukur akan kebagian libur dua minggu.
Saya: Oh begitu …selama libur dua minggu tentunya dia tidak dapat penghasilan karena tidak bekerja.
Ujang: Selama dua minggu libur di sini, dia biasanya digunakan untuk bekerja atau mencukur di tempat cukur yang lain.
Saya: Iya kalau dapat tempat, kalau tidak gimana Jang?
Ujang: Biasanya sih ada saja tempat cukur yang dapat menampung.
Saya: Terus, sistem pengupahan di sini gimana?
Ujang: Disini pakai sistem bagi hasil dengan pemilik, kalau dapat 20.000, ya dibagi dua, masing-masing 10.000.
Saya: Wah, enak juga ya pemilik temat ini, kalau saya punya tempat dan modal juga bisa dong buka usaha tempat cukur?
Ujang: Oh bisa pak, siap…nanti saya bantu. Dulu saya juga sempat buka tempat cukur sendir, tapi kontrak rumahnya habis dan tidak diperpanjang oleh pemilik rumah. Eh gak lama kemudian si pemilik rumah yang gentian buka temapt cukur sendiri. Mungkin dia pikir untungnya lebih banyak.
Saya: Lho, kamu mau terus jadi tukang cukur?
Ujang: Habis mau kerja apa lagi pak, cari pekerjaan sekarang susah, ini juga sudah syukur bisa kerja jadi tukang cukur., yang penting dapat penghasilan halal.
Saya: Kamu sudah berkeluarga?
Ujang: Wah, belum pak, belum terpikir untuk nikah, masih ngumpulin uang dulu saja. Paling cepat nikah tahun depan.
Saya: Ya kalau sudah ada calonnya dan rejeki, jangan ditunda-tunda lagi.
Ujang: Iya pak…

Obrolan terhenti karena dia harus fokus saat menggunakan pisau silet untuk merapikan rambut saya. Saya pikir, Ujang ini masih beruntung, walapun upahnya tidak sebesar orang yang bekerja di perusahaan, tapi usaha tempat cukur ini tahan banting terhadap krisis keuangan yang sekarang melanda dunia, termasuk Indonesia. Bahkan sekarang banyak pegawai perusahaan yang mulai kena PHK. Suatu saat, pegawai yang kena PHK itu pasti juga akan datang ke tempat cukur untuk menggunakan jasa orang seperti Ujang. Begitulah hidup, rejeki sudah ada yang mengatur, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, namun apapun hasilnya tetap harus disyukuri. Selesai saya dicukur, saya lihat anak saya juga baru selesai dicukur. Setelah membayar kamipun kembali ke rumah dengan potongan rambut baru.

Balance

Pada saya saat belajar akuntansi sekitar tahun 1987, dosen saya pada saat itu selalu mengingatkan salah satu prinsip yang harus dipahami dalam menyusun neraca adalah balance (seimbang). Rumus yang digunakan adalah Assets = Liabilities + Capital. Makanya laporan neraca keuangan itu disebut juga Balance Sheet. Saya ingat, apabila ada di antara mahasiswa yang salah dalam membuat jurnal atau menyusun neraca, maka hukuman yang diberikan berupa menulis rumus tersebut di atas 2 (dua) halaman kertas folio. Tapi tentunya balance ini hanya berlaku untuk neraca, sedangkan untuk laporan Laba Rugi harus diupayakan pendapatan lebih besar dan biaya. Kalau terjadi balance antara pendapatan dan biaya, atau bahkan biaya lebih besar daripada pendapatan, tinggal tunggu waktu saja perusahaan akan dilikuidasi.

Setelah kuliah dan bekerja, kini saya semakin mengerti arti pentingnya sebuah keseimbangan.. Dalam setiap aspek kehidupan manusia selalu perlu keseimbangan. Kita dituntut untuk selalu menjalankan prinsip kesimbangan ini. Dalam bekerja, harus seimbang antara hak dan kewajiban, hak mendapatkan penghasilan dan kewajiban melaksanakan tugas. Apabila kesimbangan tidak tercapai yang terjadi adalah pengkhianatan. Kita dapat lihat banyak orang yang mendapat gaji besar namun tidak melakukan tugas yang diberikan sebagaimana mestinya. Di perusahaan, banyak pegawai yang datang ke kantor namun lebih banyak ngerumpi, ngobrol sambil merokok, ijin meninggalkan ruangan, melakukan bisnis sampingan pada jam kerja. Contoh lain yang sering ditampilkan oleh media massa, adalah bagaimana anggota legistatif yang bergaji besar dan mendapat berbagai fasilitas, sering absen pada saat rapat atau kalaupun datang mereka tertidur di kursinya.

Kalau bicara keseimbangan antara hak dan kewajiban, kita mungkin harus belajar dari tukang ojek atau becak. Mereka baru akan menerima bayaran setelah mengantar penumpangnya ke tempat tujuan sesuai dengan yang telah disepakati sebelumnya. Saya belum pernah naik ojek atau becak, kemudian diturunkan sebelum sampai di tempat tujuan. Saya juga tidak pernah melihat mereka minta dibayar dulu di depan baru kemudian mengantar penumpangnya.

Tuhan menciptakan alam semesta berada dalam keseimbangan. Diciptakannya siang-malam, hidup berpasang-pasangan, pria-wanita, kuat-lemah, tinggi-rendah, panas-dingin dan seterusnya, merupakan bukti adanya keseimbangan alam. Manakala keseimbangan terganggu, maka akan terjadi ketidakstabilan, walaupun pada akhirnya akan bergerak menuju ke keseimbangan yang baru (new equilibrium). Begitu pula dalam menjalani kehidupan ini hendaknya ada keseimbangan seperti yang diingatkan oleh Nabi Muhammad saw dalam salah satu hadist: “Berusahalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya dan berusahalah untuk akhiratmu seolah-seolah kamu akan meninggal esok hari”

Laskar Pelangi vs Laskar FPI

Semua orang tentu sudah pernah mendengar tentang Laskar Pelangi dan Laskar FPI. Laskar Pelangi adalah judul novel yang ditulis oleh Andrea Hirata sedangkan FPI adalah nama organisasi yang dipimpin oleh Habib Rizieq.

Apa kesamaan dan perbedaan antara keduanya? Persamaannya adalah keduanya sama-sama dikenal oleh masyarakat. Laskar Pelangi dikenal melalui promosi berbagi media, sedangkan FPI juga dikenal melalui berita di berbagai media karena aktivitasnya dalam memerangi kemaksiatan.

Perbedaannya:
Laskar Pelangi:
a. dibuat berdasarkan imajinasi dan pengalaman masa kecil.
b. menghasilkan banyak uang bagi penulisnya,
c. sering tampil di program Kick Andy
d. sudah difilmkan
e. penulisnya terkenal di kalangan akademisi dan selebritas
f. memiliki banyak penggemar
g. penulisnya berambut ikal.
h. penulisnya hanya tekun membuat novel sehingga hanya makan gaji buta di kantor.
i. penulisnya pernah jadi staf saya di kantor.

Laskar FPI:
a. didirikan berdasarkan kepedulian dalam memperjuangkan agama.
b. menghasilkan banyak hujatan dari pihak yang tidak menyukai aksi FPI.
c. belum pernah tampil di program Kick Andy (setahu saya)
d. belum pernah difilmkan (kayaknya gak ada sutradara dan produser yang tertarik)
e. pemimpinnya terkenal di kalangan aparat dan pelaku maksiat.f.
f. memiliki banyak musuh (selain juga pendukung)
g. pemimpinya selalu menggunakan sorban (saya gak tahu rambutnya kayak apa)
h. pemimpin dan anggota gigih melaksanakan prinsip organisasi tapi kadang uncontrollable
i. pemimpin/anggotanya belum pernah jadi staf saya di kantor.

Saya tidak pernah mendukung cara kekerasan, tapi kemaksiatan tetap harus diberantas. Menurut saya, Laskar FPI tidak perlu dibubarkan, walaupun saya tidak pernah setuju dengan cara kekerasan. Pembinaan secara berkesinambungan oleh pihak yang berwenang terhadap organisasi masa tetap harus dilakukan. Hal penting lainnya adalah lagi adalah konsistensi aparat dalam memberantas kemaksiatan agar tidak timbul keinginan dari organisasi masa untuk melakukan tindakan main hakim sendiri. Untuk menegakkan kebenaran diperlukan keberanian dan ketegasan…sekali lagi ketegasan bukan kekerasan.

Saya bukan penggemar Andrea Hirata, makanya saya tidak pernah membeli dan membaca novelnya. Saya juga bukan penggemar Habib Rizieq, namun kalau dia menulis buku, saya akan membeli dan minta tandatangannya juga, karena orang seperti dia sudah jarang ditemui di negeri ini. Kalau penulis novel seperti Andrea Hirata, sudah banyak. Tidak percaya? Coba saja datang ke toko buku, kita bisa lihat begitu banyak novel yang dijual disana, mulai dari penulis pemula sampai penulis terkenal.

Mungkin masih ada perbedaan lainnya belum terungkap disini, karena pengetahuan saya memang terbatas pada apa yang saya dengar dan lihat saja.

Monyet tak perlu topeng

Di suatu siang hari yang terik, ketika kami beristirahat di rumah, terdengar musik gendang yang dimainkan oleh pemilik monyet. Untuk menyenangkan hati Naila, putri bungsu kami, bibipun memanggil topeng monyet itu. Sambil menemani Naila, saya perhatikan pemilik monyet yang menyiapkan peralatannya. Pertunjukan topeng monyet yang dahulu saya lihat kadang diiringi oleh anjing atau ular yang berkolaborasi dengan sang monyet. Toepng monyet yangs atu ini beraksi sendiri. Mungkin kalau dengan menggunakan ular atau anjing harus mengeluarkan biaya yang lebih besar, maka pemiliknya lebih memilih bersolo karir.

Tanpa basa-basi ataupun bertingkah, sang monyet segera beraksi begitu mendengar musik dan perintah pemiliknya. Berjalan, berlari, melompat dan jungkir balik dilakukan dengan lugas. Kadang-kadang diapun bergaya layaknya seorang artis yang mengikuti arahan sutradara. Anak saya begitu gembira menyasikan tingkah monyet itu. Namun saya merasa iba melihat monyet itu, apalagi kalau mengingat tontonan di televisi yang menayangkan cara pemilik melatih monyetnya, yang menurut saya cukup sadis. Pertunjukan topeng monyet yang satu ini tidak lagi memakai topeng.
Tidak ada aksesoris yang digunakan seperti halnya topeng monyet yang biasa dimainkan. Hanya baju dan rantai di leher monyet yang terlihat mencolok. Saya berpikir mengapa tidak memakai topeng? Mungkin karena tidak punya topeng atau pemiliknya merasa monyetnya tidak lagi perlu memakai topeng, karena tidak ada yang perlu ditutup-tutup oleh monyet. Beda dengan manusia yang sering memakai topeng atau bahkan berganti-ganti topeng untuk menutupi perilaku aslinya agar tidak diketahui orang lain.

Saya sendiri menyadari dalam keseharian juga meenggunakan topeng misalnya pada saat di kantor saya memakai topeng sebagai atasan yang memiliki kewenangan terhadp bawahan. Pada saat bertemu dengan atasan saya berganti topeng lagi menjadi bawahan yang siap melaksakan perintah. Saat di rumah saya berganti topeng menjadi seorang ayah yang selalu bersikap lembut da melindungi keluarga. Esensinya adalah setiap memakai topeng adalah perwujudan dari pergantian peran yang harus dimainkan oleh setiap manusia.
Setelah lebih kurang 10 menit dia beraksi, pertunjukanpun selesai. Delapan ribu rupiah berpindah tangan dari bibi ke pemilik monyet. Tidak seperti pentas lumba-lumba, dimana setelah beraksi lumba-lumba mendapat hadiah makanan, sementraa monyet tidak mendapat hadiah makanan dari pemiliknya. Mungkin monyet memiliki jadwal makan yang teratur supaya tidak kebanyakan makan dan menjadi kegemukan. Kalau sudah kegemukan nanti sulit bergerak…sama seperti manusia, kalau sudah kegemukan jadi malas bergerak. Setelah itu merekapun berlalu untuk berkeliling lagi sambil berharap ada orang yang akan memakai jasa mereka lagi.