Sabtu, 22 November 2008

Ngobrol sama tukang cukur

Sabtu siang saya dan anak pergi ke tukang culur langganan untuk merapikan rambut, walaupun rambut saya sebenarnya sudah hampir punah karena erosi. Saya memnag tidak pernah datang ke salon. Untuk urusan rambut saya merasa lebih nyaman pergi ke tukang cukur tradisional. Sambil dicukur saya mengobrol dengan si Ujang, begitu saya memanggil tukang cukur langganan saya itu

Saya: Kemana tukang cukur yang satu lagi?
Ujang: Dia sedang libur pak, dua minggu.
Saya: Hah, dua minggu…lama sekali? Hebat euy, tukang cukur sekali libur bisa dua minggu. Jatah cuti saya di kantor setahun hanya 12 hari.
Ujang: Bukannya hebat pak, teman saya terpaksa libur karena harus bergilir dengan temannya yang lain. Kursi cukur di sini hanya ada tiga sedangkan tukang cukurnya ada empat orang, jadi harus ada yang gantian libur setiap dua mingu. Jadi semua tukang cukur akan kebagian libur dua minggu.
Saya: Oh begitu …selama libur dua minggu tentunya dia tidak dapat penghasilan karena tidak bekerja.
Ujang: Selama dua minggu libur di sini, dia biasanya digunakan untuk bekerja atau mencukur di tempat cukur yang lain.
Saya: Iya kalau dapat tempat, kalau tidak gimana Jang?
Ujang: Biasanya sih ada saja tempat cukur yang dapat menampung.
Saya: Terus, sistem pengupahan di sini gimana?
Ujang: Disini pakai sistem bagi hasil dengan pemilik, kalau dapat 20.000, ya dibagi dua, masing-masing 10.000.
Saya: Wah, enak juga ya pemilik temat ini, kalau saya punya tempat dan modal juga bisa dong buka usaha tempat cukur?
Ujang: Oh bisa pak, siap…nanti saya bantu. Dulu saya juga sempat buka tempat cukur sendir, tapi kontrak rumahnya habis dan tidak diperpanjang oleh pemilik rumah. Eh gak lama kemudian si pemilik rumah yang gentian buka temapt cukur sendiri. Mungkin dia pikir untungnya lebih banyak.
Saya: Lho, kamu mau terus jadi tukang cukur?
Ujang: Habis mau kerja apa lagi pak, cari pekerjaan sekarang susah, ini juga sudah syukur bisa kerja jadi tukang cukur., yang penting dapat penghasilan halal.
Saya: Kamu sudah berkeluarga?
Ujang: Wah, belum pak, belum terpikir untuk nikah, masih ngumpulin uang dulu saja. Paling cepat nikah tahun depan.
Saya: Ya kalau sudah ada calonnya dan rejeki, jangan ditunda-tunda lagi.
Ujang: Iya pak…

Obrolan terhenti karena dia harus fokus saat menggunakan pisau silet untuk merapikan rambut saya. Saya pikir, Ujang ini masih beruntung, walapun upahnya tidak sebesar orang yang bekerja di perusahaan, tapi usaha tempat cukur ini tahan banting terhadap krisis keuangan yang sekarang melanda dunia, termasuk Indonesia. Bahkan sekarang banyak pegawai perusahaan yang mulai kena PHK. Suatu saat, pegawai yang kena PHK itu pasti juga akan datang ke tempat cukur untuk menggunakan jasa orang seperti Ujang. Begitulah hidup, rejeki sudah ada yang mengatur, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, namun apapun hasilnya tetap harus disyukuri. Selesai saya dicukur, saya lihat anak saya juga baru selesai dicukur. Setelah membayar kamipun kembali ke rumah dengan potongan rambut baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar