Tour d’Indonesia yang tahun lalu tidak diadakan karena ketiadaan sponsor, akhirnya tahun ini bisa terlaksana dengan dukungan dari PT Telkom, makanya diberi nama Speedy Tour d’Indonesia. Produk sponsor dengan event ternyata ada ketersambungan, yaitu antara Speedy yang mengedepankan kecepatan dengan balap sepeda yang juga mengandalkan ketahanan fisik dan kecepatan. Klop deh….
Namun sayang, event ini terasa kurang gregetnya dan kurang mendapat antusiasme dari masyarakat Bandung. Hal ini terlihat dari pengunjung yang hadir pada penyambutan peserta saat tiba di Bandung hari minggu dan pelepasaan start hari Senin. Mungkin juga sepinya pengunjung disebabkan kurangnya promo yang dilakukan oleh pihak penyelenggara. Saya sendiri memang merasakan kalau promo untuk event ini tidak begitu gencar sehingga kurang diketahui oleh masyarakat luas. Pada saat penyambutan tidak terlihat antusiasme masyarakat yang ingin menyaksikan para pembalap sepeda itu...sepi euy.
Minggu siang, bersama dengan anak saya dan teman-teman biker lain yang akan menyambut peserta yang baru datang dari Jakarta, awalnya sempat kecewa karena sesuai jadwal rombongan peserta akan tiba di pintu tol Pasteur jam 16.00, ternyata baru tiba menjelang magrib. Apalagi panitia tidak menyediakan makanan dan minuman untuk para biker yang menyambut rombongan itu. Terlihat sekali kurangnya koordinasi di antara penyelenggara. Kasihan juga saya melihat para biker, sudah capek menunggu dari jam 2 siang, tetapi tidak diberi makan dan minuman. Setelah acara penyambutan selesai, hujanpun turun dengan deras, lengkap sudah penderitaan teman-teman biker.
Keesokan harinya, start untuk etape berikutnya dilepas oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan yang didampingi Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno. Saat itu juga tidak tampak antusiasme warga Bandung untuk hadir menyaksikan event ini. Pengunjung yang hadir lebih didominasi para official, anak-anak dari Sekolah Dasar dan pegawai Telkom yang notabene adalah sponsor utama event ini. Sayang juga event sebesar ini kurang mendapat respon yang baik dari masyarakat. Saya pikir untuk menarik pengunjung sebaiknya diadakan sesi coaching clinic, dimana para pembalap pemula atau junior dapat hadir untuk bertemu, diskusi dan foto bareng dengan para pembalap idolanya baik dari dalam maupun luar negeri. Hal ini juga dapat menarik minat masyarakat terutama anak muda untuk menyukai olah raga sepeda. Mungkin juga masyarakat melihat olahraga sepeda ini kurang bergengsi, padahal kalau kita lihat harga sebuah sepeda para pembalap itu lebih mahal dari harga sebuah sepeda motor.
Kalau saja event ini berlangsung dengan sukses dan semarak, dapat memberi kesan yang baik pada para peserta dari mancanegara. Apalagi pada saat perlombaan, para peserta banyak melewati keindahan alam dan menyaksikan beragam budaya Indonesia di daerah yang dilalui. Hal ini juga dapat membuat mereka tertarik untuk mengikuti acara serupa tahun berikutnya. Kesan yang baik juga dapat membuat mereka tertarik untuk datang kembali ke Indonesia dalam rangka wisata atau setidaknya menceritakan tentang keindahan alam dan kebudayaan Indonesia kepada keluarga atau teman-teman mereka di negaranya masing-masing..
Namun sayang, event ini terasa kurang gregetnya dan kurang mendapat antusiasme dari masyarakat Bandung. Hal ini terlihat dari pengunjung yang hadir pada penyambutan peserta saat tiba di Bandung hari minggu dan pelepasaan start hari Senin. Mungkin juga sepinya pengunjung disebabkan kurangnya promo yang dilakukan oleh pihak penyelenggara. Saya sendiri memang merasakan kalau promo untuk event ini tidak begitu gencar sehingga kurang diketahui oleh masyarakat luas. Pada saat penyambutan tidak terlihat antusiasme masyarakat yang ingin menyaksikan para pembalap sepeda itu...sepi euy.
Minggu siang, bersama dengan anak saya dan teman-teman biker lain yang akan menyambut peserta yang baru datang dari Jakarta, awalnya sempat kecewa karena sesuai jadwal rombongan peserta akan tiba di pintu tol Pasteur jam 16.00, ternyata baru tiba menjelang magrib. Apalagi panitia tidak menyediakan makanan dan minuman untuk para biker yang menyambut rombongan itu. Terlihat sekali kurangnya koordinasi di antara penyelenggara. Kasihan juga saya melihat para biker, sudah capek menunggu dari jam 2 siang, tetapi tidak diberi makan dan minuman. Setelah acara penyambutan selesai, hujanpun turun dengan deras, lengkap sudah penderitaan teman-teman biker.
Keesokan harinya, start untuk etape berikutnya dilepas oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan yang didampingi Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno. Saat itu juga tidak tampak antusiasme warga Bandung untuk hadir menyaksikan event ini. Pengunjung yang hadir lebih didominasi para official, anak-anak dari Sekolah Dasar dan pegawai Telkom yang notabene adalah sponsor utama event ini. Sayang juga event sebesar ini kurang mendapat respon yang baik dari masyarakat. Saya pikir untuk menarik pengunjung sebaiknya diadakan sesi coaching clinic, dimana para pembalap pemula atau junior dapat hadir untuk bertemu, diskusi dan foto bareng dengan para pembalap idolanya baik dari dalam maupun luar negeri. Hal ini juga dapat menarik minat masyarakat terutama anak muda untuk menyukai olah raga sepeda. Mungkin juga masyarakat melihat olahraga sepeda ini kurang bergengsi, padahal kalau kita lihat harga sebuah sepeda para pembalap itu lebih mahal dari harga sebuah sepeda motor.
Kalau saja event ini berlangsung dengan sukses dan semarak, dapat memberi kesan yang baik pada para peserta dari mancanegara. Apalagi pada saat perlombaan, para peserta banyak melewati keindahan alam dan menyaksikan beragam budaya Indonesia di daerah yang dilalui. Hal ini juga dapat membuat mereka tertarik untuk mengikuti acara serupa tahun berikutnya. Kesan yang baik juga dapat membuat mereka tertarik untuk datang kembali ke Indonesia dalam rangka wisata atau setidaknya menceritakan tentang keindahan alam dan kebudayaan Indonesia kepada keluarga atau teman-teman mereka di negaranya masing-masing..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar