Sabtu, 22 November 2008

Monyet tak perlu topeng

Di suatu siang hari yang terik, ketika kami beristirahat di rumah, terdengar musik gendang yang dimainkan oleh pemilik monyet. Untuk menyenangkan hati Naila, putri bungsu kami, bibipun memanggil topeng monyet itu. Sambil menemani Naila, saya perhatikan pemilik monyet yang menyiapkan peralatannya. Pertunjukan topeng monyet yang dahulu saya lihat kadang diiringi oleh anjing atau ular yang berkolaborasi dengan sang monyet. Toepng monyet yangs atu ini beraksi sendiri. Mungkin kalau dengan menggunakan ular atau anjing harus mengeluarkan biaya yang lebih besar, maka pemiliknya lebih memilih bersolo karir.

Tanpa basa-basi ataupun bertingkah, sang monyet segera beraksi begitu mendengar musik dan perintah pemiliknya. Berjalan, berlari, melompat dan jungkir balik dilakukan dengan lugas. Kadang-kadang diapun bergaya layaknya seorang artis yang mengikuti arahan sutradara. Anak saya begitu gembira menyasikan tingkah monyet itu. Namun saya merasa iba melihat monyet itu, apalagi kalau mengingat tontonan di televisi yang menayangkan cara pemilik melatih monyetnya, yang menurut saya cukup sadis. Pertunjukan topeng monyet yang satu ini tidak lagi memakai topeng.
Tidak ada aksesoris yang digunakan seperti halnya topeng monyet yang biasa dimainkan. Hanya baju dan rantai di leher monyet yang terlihat mencolok. Saya berpikir mengapa tidak memakai topeng? Mungkin karena tidak punya topeng atau pemiliknya merasa monyetnya tidak lagi perlu memakai topeng, karena tidak ada yang perlu ditutup-tutup oleh monyet. Beda dengan manusia yang sering memakai topeng atau bahkan berganti-ganti topeng untuk menutupi perilaku aslinya agar tidak diketahui orang lain.

Saya sendiri menyadari dalam keseharian juga meenggunakan topeng misalnya pada saat di kantor saya memakai topeng sebagai atasan yang memiliki kewenangan terhadp bawahan. Pada saat bertemu dengan atasan saya berganti topeng lagi menjadi bawahan yang siap melaksakan perintah. Saat di rumah saya berganti topeng menjadi seorang ayah yang selalu bersikap lembut da melindungi keluarga. Esensinya adalah setiap memakai topeng adalah perwujudan dari pergantian peran yang harus dimainkan oleh setiap manusia.
Setelah lebih kurang 10 menit dia beraksi, pertunjukanpun selesai. Delapan ribu rupiah berpindah tangan dari bibi ke pemilik monyet. Tidak seperti pentas lumba-lumba, dimana setelah beraksi lumba-lumba mendapat hadiah makanan, sementraa monyet tidak mendapat hadiah makanan dari pemiliknya. Mungkin monyet memiliki jadwal makan yang teratur supaya tidak kebanyakan makan dan menjadi kegemukan. Kalau sudah kegemukan nanti sulit bergerak…sama seperti manusia, kalau sudah kegemukan jadi malas bergerak. Setelah itu merekapun berlalu untuk berkeliling lagi sambil berharap ada orang yang akan memakai jasa mereka lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar