Selasa, 25 November 2008

Haji...beri kesempatan pada yang belum

Pada bulan Nopember ini saya beberapa kali mendapat undangan dari teman yang akan melaksanakan ibadah haji. Biasanya pada acara itu juga diisi dengan ceramah yang terkait dengan ibadah haji. Setiap kali mendapat undangan dan mendengar ceramah terkait ibadah haji, timbul keinginan untuk kembali melaksanakan ibadah haji. Namun saat itu juga saya berusaha mengeliminir keinginan itu dengan berpikir bahwa haji itu wajib hanya satu kali seumur hidup, selebihnya adalah sunnah. Sementara itu masih banyak orang yang belum mendapat kesempatan melaksanakan ibadah haji. Kalau orang yang sudah pernah haji atau bahkan berkali-kali haji masih ingin pergi juga, bagaimana dengan yang belum pernah berhaji, kesempatannya pasti akan semakin kecil karena kesempatan mereka sudah diambil oleh orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik, yang bahkan dapat membayar ONH setiap tahun...ONH plus lagi.

Saya sangat bersyukur, selama melaksanakan ibadah haji selalu diberi kemudahan. Cuaca di sana pada saat itu juga saya rasakan cukup bersahabat dengan jamaah dari Indonesia. Walaupun begitu tetap saja saya terkena penyakit batuk yang baru sembuh total setelah dua minggu kembali dari Mekah. Kemudahan yang paling saya rasakan adalah pada saat dapat mencium Hajar Aswad, walaupun sebelumnya saya tidak berniat untuk mencoba mendekatinya, mengingat tempat itu selalu penuh sesak. Justru pada saat saya meniatkan untuk mencium Hajar Aswad untuk yang kedua kali, saya malah terjepit dan terlempar dari kerumunan para jamaah haji. Astaghfirullah....mungkin saya sudah berbuat zalim kepada jamaah lain. Saya sudah merasakan mencium Hajar Aswad, seharusnya saya lebih memberikan kesempatan kepada mereka yang belum pernah menciumnya. Begitu pula pada saat melontar jumrah, saya dapat melakukannya dengan lancar, walaupun pada saat itu juga terjadi musibah yang menyebabkan beberapa orang jamaah haji meninggal dunia karena terinjak-injak saat berdesakan melontar jumrah.

Ibadah haji memang menuntut semangat berkorban dari para jamaah. Pengorbanannya dimulai sebelum berangkat yaitu menabung, meninggalkan keinginan membeli sesuatu yang tidak perlu. Belajar menambah ilmu agama, daripada membuang waktu dengan hal yang tidak jelas. Setelah berangkat kita berkorban dengan meninggalkan rutinitas, pekerjaan, keluarga dan harta bahkan nyawa. Sesampainya di sana kita berkorban untuk selalu sabar dalam menjalankan ibadah dan menghadapi segala sesuatu yang terjadi. Jadi apapun yang dilakukan disana memang benar-benar membutuhkan pengorbanan yang besar. Tapi kemudian timbul pertanyaan, setelah kita kembali dari haji, apakah semangat berkorban itu masih tetap ada, semakin berkurang atau bahkan menghilang. Saya alami sendiri, semangat berkorban setelah kembali dari haji memang berkurang bila dibanding dengan saat berhaji dulu. Inilah tantangan yang harus dihadapi dalam rangka mencapai haji mabrur. Jadi benar kata para ulama, bahwa haji mabrur itu ditentukan setelah jamaah tersebut kembali ke tanah air.

Hal lain yang perlu disiapkan oleh para jamaah haji sebelum berangkat ke Mekah adalah niat dan ilmu untuk melaksanakan haji. Apakah niatnya benar-benar semata-mata karena Allah SWT atau ada maksud lain, seperti ingin memiliki gelar haji, ingin lebih disegani oleh orang lain, ingin lebih dianggap sebagai orang alim/berilmu atau niat-niat lainnya. Bekal ilmu yang kita miliki, apakah sudah cukup untuk melaksanakan ibadah haji sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Bila kedua hal itu sudah dirasa mencukupi, tinggal kita melaksanakan haji sambil memohon petunjuk dan perlindungan dari Allah SWT. Selamat jalan saudara-saudaraku, semoga dapat melaksanakan ibadah haji dengan lancar dan selamat, kembali menjadi haji mabrur.

Labbaik allahumma labbaik Labbaikalaa syariikalakalabbaik. Innal hamda wanni’mata lakawalmulka laa syarii kalak

Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat adalah milik-Mu, tidak sekutu bagi-Mu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar