Sabtu, 22 November 2008

Aku Butuh Informasi, Bukan Surat Kabar

Saat ini, aku rasakan informasi sudah menjadi kebutuhan yang sangat penting. Informasi biasanya saya dapatkan dari radio di mobil ketika pergi atau pulang kantor. Kemudian informasi dari surat kabar/majalah dan televisi pada saat di rumah serta internet saat di kantor ataupun di rumah. Dengan begitu banyaknya sumber informasi yang ada, aku menilai surat kabar atau majalah merupakan sumber informasi yang paling mahal.

Sebagai perbandingan, televisi, radio gratis, internet di kantor gratis, sedangkan internet di rumah berlangganan dengan biaya sekitar Rp. 200.000/bulan. Sementara itu langganan surat kabar sekitar Rp. 80.000/bulan, majalah sekitar Rp. 125.000/bulan. Malalui internet kita dapat memperoleh informasi apa saja, mulai dari yang legal maupun ilegal atau yang halal maupun haram. Mau belajar atau mencari ilmu melalui internet juga bisa, mau cari hiburan juga ada. Jadi kalau diitung dari manfaat yang diperoleh, internet jelas lebih murah dan menguntungkan.

Sebenarnya suratkabar dan majalah itu tidak aku bayar karena sudah disediakan di kantor. Namun aku merasa langganan surat kabar dan majalah tidak efektif, karena di kantor mungkin juga tidak sempat dibaca, kalaupun dibaca, hanya headline-nya saja. Informasi yang disajikan paling baru adalah informasi yang terjadi sampai malam sebelum berita naik cetak. Apalagi majalah, informasinya tentang kejadian seminggu sebelumnya….sudah basi! Dibawa pulang ke rumah, aku sudah malas untuk membacanya karena lelah dan juga infonya sudah semakin basi. Edisi hari Sabtu-Minggu jelas tidak akan dibaca karena baru akan diantar oleh tukang koran pada hari Senin berikutnya. Informasi yang benar-benar up to date memang aku dapat dari televisi, radio dan internet.

Kalau begitu, untuk apa perusahaan masih tetap menyediakan dana untuk membelikan surat kabar dan majalah bagi para pejabat yang ada. Apa tidak sebaiknya dana yang ada dialokasikan untuk hal lain yang lebih efektif dan bermanfaat. Bahkan kalau perlu dana yang ada itu digunakan saja untuk membayar atau mensubsidi biaya fasilitas internet di rumah para pegawai. Hal ini dapat ikut membantu untuk mencerdaskan pegawai dan keluarganya atau bahkan orang di lingkungan sekitarnya. Dampak negatifnya tentu saja ada, yaitu penurunan income bagi si penjual surat kabar/majalah tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar